Yudistira, dengan paras yang menampakkan diri polos, adalah subuah arketip raja yang sederhana. Kepalanya merunduk dengan rona yang mawas, raut mukanya merepresentasikan keningratan yang halus. Sosok Yudistira—yang di Jawa lebih populer dengan sebutan Puntadewa—tampil sebagai sebuah tokoh ideal Pandita Ratu yang dengan ugaharinya telah menyingkirkan nafsu duniawi. Tak banyak dalam sebuah negeri yang dipimpin oleh orang yang mengabdi kepada orang lain ( liyan ), mengabdi kepada rakyat—sebagaimana nama lainnya: Samiaji (menghormati/mencintai orang lain seperti dirinya sendiri). Yudistira, agaknya, menjadi sebuah sosok kesejatian seorang pemimpin. Hidupnya sederhana. Tampilannya tanpa perhiasan, tak selayaknya seorang raja yang gelimang kemewahan. Anak sulung Pandu ini tak pernah murka, tak pernah bertarung, tak pernah menolak permintaan siapun—betapapun rendahnya sang peminta. Baginya derap waktu yang mengalir adalah sebuah ejawantah untuk untuk meditasi dan sarana menghimpun ...