Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label indonesia

Fathanah

Fathanah, barangkali, adalah sebuah tanda zaman. Kita tak tahu pasti, kenapa orang berlatar belakang ‘islamis’ seperti dirinya membuat ulah di luar akal sehat kita. Seorang politisi yang juga penguasaha, begitulah dirinya. Ia adalah sebuah gambaran sistem sosial kemasyarakatan kita yang kian banal. Adalah ‘demokrasi’ yang kian ‘liberal’ di mana yang-politik telah dikangkangi oleh kepentingan untung-rugi, dengan kata lain sebuah pasar—membuat ‘uang rakyat’ bersih, ludes diembat orang macam Fathanah. Perawakannya terlihat elegant layaknya pengusaha (atau malah mafia ?hehe). Dengan raut muka yang terlihat wibawa, orang tak akan menyangka jika ia ternyata adalah seorang pecandu wanita, atau seorang perampok yang memiskinkan moral dan kekayaan negara. Dengan santai ia akui semua. Ia korup dana impor sapi, lalu ia cuci uang itu untuk membeli sejengkal ‘cinta satu malam’. Ia memang tak gila, setidaknya secara mental, tapi ‘gila’ secara sosial. Sebuah laku yang absurd yang ia ...

Matinya Pahlawan

 "Bila tanda dapat digunakan untuk menampilkan kebenaran ( truth ), maka tanda juga dapat digunakan untuk menipu ( lie )..." —Arthur Asa Berger   Setiap waktu kita selalu digedor dan d i bombardir oleh beragam informasi dan tanda-tanda. Tinggal buka gadget , semua informasi langsung terpampang. Namun ironisnya, semua informasi dan fenomena yang terpampang dihadapan mata kita itu malah bukan membuat kita “pintar”, tapi sebaliknya m alah membuat kita “bodoh” (atau dibodohi?) . Kebanjiran informasi yang mengepung dimensi hidup kita itu membuat jurang yang kontradiktif, antara citraan dan kebenaran, antara realitas dan hiperealitas — semakin kabur , bahkan tumpang-tindih melebur tanpa ihwal yang pasti. Ada ribuan imaji yang sengaja dikonstruksikan untuk para pemirsa, imaji-imaji itu membikin kita takluk, membikin manusia memersepsi realias melalui dunia symbol yang seringkali semu, palsu, artifi s ial. Dunia manusia memang bukan dunia natural, tapi dunia k ultural...

Hukum islam vis-à-vis kemodernan dan keindonesiaan

Menelaah hukum islam (fikih dan syariah) dalam level diskursus memang menjadi khazanah yang problematis. Ini menjadi sebuah isu yang hangat dalam diskursus kontemporer, terutama dalam rangka menyikapi dikotomi antara sekularisme dan absolutisme agama. Satu sisi umat islam tertantang oleh agenda dunia modern ( hadhatsah ) yang mencita-citakan keadilan, demokrasi, penegakan HAM, dan kebebasan manusia untuk berekspresi dan aktualisasi serta tanggung jawabnya terhadap lingkungan hidup. Disisi yang lain umat islam dihadapkan dengan tradisi ( turats ) yang sudah dianggap taken for granted dan final sebagai solusi yang menjadi panacea (obat) bagi segala macam patologi modernitas. Dalam hal ini, para pemikir sekular cenderung abai terhadap nilai-nilai keagamaan yang menyangkut kehidupan bersama dalam ruang publik, seolah-olah mereka melarikan diri dari kenyataan dan agama hanya dianggap sebagai ritus belaka. Sementara itu para pemikir fundamentalis menganggap konstruksi hukum dalam isl...