Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label kontemplasi

Theater of the absurd

“He who has a why to live can bear almost any how.” –Friedrich Nietzsche   Mungkin inilah nasib, yang lamat menyeka hidup dengan begitu tertib, sesekali terselip-selip pada sesak pejal waktu yang terus bergulir. Hidup memang bukan jalan lempang—jalannya penuh liku, berkelok-kelok mungkin curam, kita tak tahu pasti.  Masa depan laksana malam yang berjelaga hitam. Warnanya lepas seraya halimun yang lamat sukar untuk di raba. Tak dapat kita tangkap sebuah kepastian daripadanya. Barang sejenak kita coba raba suatu kepastian, saat itu pula kita terikat pada titik batas, ruang antara. Bukan berarti pesimis menghadapi hidup yang penuh enigma ini. Tapi begitulah kenyataanya. Kadang kita sandarkan harap kita yang seolah pasti pada seseorang yang kita percaya, tapi apa? Yang-lain itu malah berpaling dari kita yang sandarkan semua. Mungkin Sartre ada benarnya: Orang lain itu neraka! Ah, iya seringkali, tapi juga tak sepenuhnya benar. Karena toh kita tetap...

Harmoni

Entah percik rasa dan intuisi apa yang seringkali tiba-tiba muncul dan hinggap dalam kesadaran egoku akhir-akhir ini —seringkali tak mudah dimengerti dalam sebuah konsep. Dalam kesunyian soliter diri saat terjaga kala hening menjelang fajar kizib, seolah ada sebuah tenaga “yang-lain”, menggerakkan seluruh energy dalam tubuhku untuk segera bangun. Barangkali semacam ȇlan vital kreatif yang selalu mendorongku untuk mencerapi segala sunyi hakiki itu. Tapi anehnya pula disaat itu ada yang mencoba mengelak. Menghindar dari ekstase yang diam itu. Ada semacam jarak. Tarik-meanarik tiada terperikan yang serasa berkecamuk dan bergolak pada kedalaman yang juga tak bisa dimengerti. Ada yang bergerak dan men- jadi. Hanya itu yang aku rasa. Sesuatu itu, yang entah apa, bergerak menuju suatu tempat tertentu, sebuah tempat yang-bukan-tempat, ia bukan ruang, tak pula tersentuh oleh waktu yang mekanis. Bergerak dari sebuah potensialitas menuju aktualitasnya, yang tak kunjung usai. Selalu ...

Sebelas Fragmen [ke]sunyi[an]

Fragmen I "Terkadang mungkin benar kita harus melepas sesuatu yang memang ingin dilepaskan dan dibebaskan, meski lama menunggunya hingga mengendap rasa terdalamnya... ikhlas, kemudian dan dengan melepaskan rasa itu kita akan bebas mencari sesuatu yang akan-datang, sesuatu yang selalu terbuka... meski endapan cerita lama itu tak akan pernah hilang, selalu membekas, tapi sebuah mimpi akan menghantarkan wajah kita pada satu bahagia, satu cinta... akhirnya? biarkan fenomena terserak itu melantunkan nada mayornya dengan partiturnya sendiri, semoga bersua saat senyum mengernyit diwajahnya...

Kala seorang “gila” tersenyum padamu

Seorang pemuda dungu yang diperbudak cinta meminta obat tertentu pada sahabatnya… “bung, obat itu untuk orang gila, kau sama sekali tak memerlukannya…” sahabatnya nyeletuk dengan nada mengejek. “kemarin seseorang menoleh dan tersenyum padaku, menggerak-gerakkan alisnya dan menarik-narik lengan bajuku, dia tak akan berbuat begitu andai tak menganggapku orang yang cocok!”

Titian

“ Eksistensi sebuah kebenaran tergantung pada proses atau peristiwa sebuah kejadian… ” –Alain Badiou   Jujur saja, akhir-akhir ini aku sedang dihinggapi penyakit malas yang memenjarakan dan menyandera ‘kesadaran’ egoku. Aku tak paham. Berjuta-juta kegelisahan atau mungkin kegalauan   sedang dalam titik kulminasinya. Banyak masalah yang harus aku siangi duduk perkaranya, tentu, tak hanya menghasilkan sintesis berupa kesimpulan-kesimpulan tapi juga menuntut prasis yang tepat, taktis, dan strategis. Barangkali ini terjadi kepada semua mahasiswa yang mulai beranjak menuju titian diambang batas antara berfikir teoretis dan berfikir praktis—apalagi bagi seorang kutu buku macam aku. Disitulah keterbelahan semakin menyembul dalam ketakjelasan, satu sisi aku masih setia pada janji keagungan dunia idea dalam spiral bahasa, aksara, kata-kata, dan lekuk pagina yang menawarkan kebebasan pikiran, jiwa, dan—meminjam   istilah Camus— aku berontak maka aku ada.

Baret merah

Gemuruh wacana menyibak tirai hitam Dalam gelap malam, menaja puluhan buku Memacu keliaran nalar, hingga tengat waktunya Kala ku buka tiap pagina, huruf-huruf menerakan fenomena tersisa bercak nikotin diatas kertas, menguning... Teruskan gelisahmu kawan! Hingga esok menceritakan utopia...

Kartasura

Gerak mediasi menghampa malam sunyi Terasulnya terlupa dicekal keras hati Sore tadi, api membuncah meninggi di hiruk-pikuk jalan, memantul raung sirine Berkelebat hasratkan padam sesegera Berlarian tiada karuan, tak memeduli halang-rintang Akupun mengikuti ingatan lalu, tentang wajahnya, menguliti sunyi...

deja vu

(I) Aku ingin melihatmu disini Kala malam memahat sepi Aku ingin mendengarmu bernyanyi ketika aku tak mampu menulis lagi Hangat aku nikmati not penuh mimpi Mengalun nada hening pada memori Berdenting lepas, menerakan maras Mainkan lagi refleksi pianonya mengimaji Redakan lukaku atas angkuhnya terjejaki

Ekstase (momen asketis)

Seseorang akan bebas dari panas api Kala dingin hatinya semesra embun pagi Diterik mentari, aku bersembunyi disurau kami, mengasingkan diri dari keramaian, kebisingan yang menikam Sepi yang sunyi, lupakan angkuh terlewatkan Dalam ruang, kefanaan, semuanya terhubung Dari satu tetap, bersenyawa makna perubahan Ruh semesta menggigir jasad kasat mata

music of being

The sky veiled A moon shy, sublimed to the horizon The morning has come A glittere d haze drops in palm leaves I saw yo u upon the roof, before the night, a solitary night... You tell me everything, that was a beautiful rejection I know, I'm not the one... The guitar passed away, it ’ s sound discordant But today, I find a new way The path, maybe, to leave your way

Annisa [1]

Terjaga mata-mata menuai peristiwa Kerlap cahaya meninggi dicakrawala Semakin jauh langkahnya Seorang wanita berparas jelita Meninggalkan sunyi, berdentum lirih bersahutan ditelinga ku, lamat tak terdengar...

Convoitise

Terkadang aku tiada mengerti Kehidupan ini, riuh terpahat sunyi Disetiap jalan kota ini aku susuri Etalase, terus membuai, mencerminkan mimpi Cermin yang bukan 'aku' Terus ia merayu, merepetisi selera seragam Demi khayal manusia sempurna

Adieu

I Selalu ada yang pergi, jauh tinggalkan diri Menyisakan jejak ingatan terdalam, Mengiring lepas peristiwa pernah tercandra Disebuah pematang, kita beriringan bersama Lewati tajam selekoh, lubang-lubang, tanjakan menerjal Kita lewati semua, nyaris tanpa sadar kita sudah disini, menaja hari...

Selamat Ramadhan

--> “…Karena kebenaran adalah milik dari kalimat-kalimat, dan karena kalimat bergantung pada keberadaanya pada kata-kata, dan karena kata-kata adalah buatan manusia, maka begitu pula dengan kebenaran…” Richard Rorty Hari ini ada sesuatu yang terasa agak berbeda dengan hari-hari yang lalu. Mungkin karena esok hari puasa ramadhan akan dimulai, meski ada gelagat bahwa penentuan awal bulan ramadhan itu diwarnai dengan sedikit perdebatan. Dan itu sudah menjadi warisan lama yang menubuh menjadi ideology untuk saling berkontestasi dan berebut pengaruh tentang mana kelompok yang paling sahih di belantara nusantara ini. Antara hisab dan rukyat yang memang jadi perdebatan perennial tiada ujung, yang mungkin akhir-akhir ini dibubuhi dengan politisasi keyakinan agama serta rong-rongan yang menyatakan salah satu kelompok islam itu sudah jadul dalam metode hisabnya. Yang tentu bagi kaum awam seperti saya hanya bisa memilih yang sesuai saja. Ada...