“He who has a why to live can bear almost any how.” –Friedrich Nietzsche Mungkin inilah nasib, yang lamat menyeka hidup dengan begitu tertib, sesekali terselip-selip pada sesak pejal waktu yang terus bergulir. Hidup memang bukan jalan lempang—jalannya penuh liku, berkelok-kelok mungkin curam, kita tak tahu pasti. Masa depan laksana malam yang berjelaga hitam. Warnanya lepas seraya halimun yang lamat sukar untuk di raba. Tak dapat kita tangkap sebuah kepastian daripadanya. Barang sejenak kita coba raba suatu kepastian, saat itu pula kita terikat pada titik batas, ruang antara. Bukan berarti pesimis menghadapi hidup yang penuh enigma ini. Tapi begitulah kenyataanya. Kadang kita sandarkan harap kita yang seolah pasti pada seseorang yang kita percaya, tapi apa? Yang-lain itu malah berpaling dari kita yang sandarkan semua. Mungkin Sartre ada benarnya: Orang lain itu neraka! Ah, iya seringkali, tapi juga tak sepenuhnya benar. Karena toh kita tetap...