Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label perlawanan

Matinya Pahlawan

 "Bila tanda dapat digunakan untuk menampilkan kebenaran ( truth ), maka tanda juga dapat digunakan untuk menipu ( lie )..." —Arthur Asa Berger   Setiap waktu kita selalu digedor dan d i bombardir oleh beragam informasi dan tanda-tanda. Tinggal buka gadget , semua informasi langsung terpampang. Namun ironisnya, semua informasi dan fenomena yang terpampang dihadapan mata kita itu malah bukan membuat kita “pintar”, tapi sebaliknya m alah membuat kita “bodoh” (atau dibodohi?) . Kebanjiran informasi yang mengepung dimensi hidup kita itu membuat jurang yang kontradiktif, antara citraan dan kebenaran, antara realitas dan hiperealitas — semakin kabur , bahkan tumpang-tindih melebur tanpa ihwal yang pasti. Ada ribuan imaji yang sengaja dikonstruksikan untuk para pemirsa, imaji-imaji itu membikin kita takluk, membikin manusia memersepsi realias melalui dunia symbol yang seringkali semu, palsu, artifi s ial. Dunia manusia memang bukan dunia natural, tapi dunia k ultural...

“Kita” dan yang-Politik

“The essence of equality is not so much to unify as to declassify, to undo the supposed naturalness of orders and replace it with the controversial figures of division.” –Jacques Ranciere Seringkali dengan sulitnya hidup dalam rangka aktualisasi kebutuhan ekonomi, kita semakin jadi lupa diri. Dihadapan realitas kehidupan yang semakin menyesakkan dan berat ini, kita semakin hari semakin menjadi tak peduli. Yang kita pedulikan hanya sebatas bagaimana menghidupi diri, orang lain siapa peduli? Demikianlah secercah “realitas” masyarakat urban yang semakin hari semakin menjadi “liberal”. Semakin hari kepedulian akan yang social dan yang politik semakin luntur seiring meningkatnya persaingan hidup dan sulitnya mencari sesuap nasi. Kita bahkan semakin anti pati dengan yang namanya politik. Banyak orang skeptic akan kondisi bangsa ini yang semakin hari semakin tak menentu arahnya. Bahkan cita-cita kesejahteraan dan keadilan social lebih menjadi hiasan undang-undang dan alat propaga...

“Aku”

Kala pagi menghamparkan pijar mentari, menyuluh sepi hati yang tertikam oleh makna keriuhan pekat manusia yang saling mengalahkan satu sama lainnya. Disebuah sudut  kota, kelimunan manusia semakin menjalar seiring mentari yang mulai menanjakkan kakinya di ufuk lazuardi. Aktivitas dan mobilisasi kemudian semakin menyeruak hingga berjejal arusnya dari berbagai sudut, sehingga arah pun tak terlau dihirau. Berjejal layaknya komoditas yang tak memiliki rasa untuk berbagi, bahkan sebuah cinta dimaknai sekedar sebagai pemuas hasrat untuk menjadi suci dengan gelimang uang kelebihan. Dihamburkanlah semua demi kesenangan sesaat dan hura-hura penuh dekadensi moralitas. Demikianlah riuh kehidupan kota yang penuh pekat hedonistik tanpa makna dan hampa dalam ihwalnya. Namun sebuah paradox terpampang sempurna, dijalan-jalan protokol begitu berjejal manusia yang menguras keringat untuk sekedar berebut sebungkus nasi: tukang becak, penjual Koran, penjual asongan, pengamen, hingga pengemis-peng...

Menapak batas Ibukota

## Kini waktu berdetak terlambat. Menghasrat sepi saat hitam memekat. Jauh horizon kedamaian menunjuk celah Hanya buku terserak Hanya teks terbaca Membawa resah ku menuju pendapa Ilahi Saat mimpi sebatas eksis dalam dirinya Tanpa ejawantah di dunia tempat menaja wajah-nya kian kabur dibalik cakrawala Aku merasa-nya, aku menunggu-nya.. Meski dihantam luka, meski diterkam petaka Tapi Jakarta telah menunggu Memacu nalar, bergerak mencari Kebenaran Aku pergi... Bersama pagi, menanti subuh, menambal peluh jiwa yang karam oleh angkuh wajahnya...

REVIEW BUKU: DIALEKTIKA MARXIS: SEJARAH DAN KESADARAN KELAS, GEORG LUKACS

REVIEW  BUKU: DIALEKTIKA MARXIS: SEJARAH DAN KESADARAN KELAS, GEORG LUKACS

pseudo-reality dalam ruang publik

Arus informasi hari ini begitu deras menjamah aras kehidupan. Tiap hari kita dijejali berbagai macam konstruksi realitas dimedia cetak, elektronik, maupun cyberspace. Semuanya saling berkontestasi menguasai para khalayak, menguasai kebenaran. Kini adalah zaman pasar mendikte negara. Sebuah zaman ponsel di tangan tanpa berisik mengirim jutaan SMS untuk memilih atau mengeliminasi kandidat bintang instan di TV.  Ruang publik bergeser fungsi menjadi ruang iklan, publikasi kepentingan privat. Memang media tidak lagi melayani propaganda, tetapi ia menjadi panggung bagi kepentingan-kepentingan modal. Dan untuk peran barunya ini media membangun watak tiranisnya sendiri: Semua bisa dibuat patuh, dan bila perlu, impian pun bisa diadministrasikan! Reality show, misalnya, menyimpan paradoks. Show adalah show karena dibedakan dari realitas yang bukan keseolahan, melainkan kesungguhan. Namun, jika reality menjadi show, realitas bisa dikomando dalam/oleh show

Post-kolonialisme: Sebuah afirmasi atas yang-Lain

Keterlemparan manusia dalam dunia eksistensial menyisakan beragam rentetan alur sejarah yang berliku. Tak pelak "keterlemparan" itu menjadikan manusia sadar akan kondisinya yang penuh dengan kekurangan (lack). Manusia hadir dimuka bumi ini secara esensial "berwajah" kosong, seperti kertas putih yang masih bersih, ia hanya mempunyai potensi untuk mengidentifikasi diri dan dunianya. Ia dibekali fikiran yang dengannya berguna untuk mencari aksioma dan premis-premis yang dikonstruksinya menjadi logika. Ia punya alat pengindraan untuk mengenali dan merasai dunia material sebagai wujud dari "realitas".

aku manusia modern

Peradaban dunia dewasa ini bisa dikatakan sedang mengalami ‘sekarat’, arah dan tujuan kehidupan manusia sedang dalam masa disorientasi. Ambivalensi dan ketidakjelasan hidup manusia semakin merunyam seiring modernitas yang terlampau membanggakan materi diatas segalanya. Bahkan secara sinis dan terkadang fatalis kaum posmodernis selalu menggelindingkan wacana akan matinya setiap  lini kehidupan manusia. Diawali dengan matinya Tuhan yang ‘dibunuh’ oleh sang ‘superman’ dari Prussia, Nietczhe. Hingga lahirnya postrukturalisme yang mengasumsikan matinya manusia sebagai subyek sejarah yang berfikir  dan gerakan posmodernisme yang menolak narasi besar. Hal ini tentu tak lepas dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan oleh peradaban barat. Namun segala kemajuan tersebut ternyata menyimpan suatu kontradiksi internal dan paradox didalamnya. Dimana memang disatu sisi perkembangan science dan ilmu pengetahuan yang berbanding lurus dengan kemajuan teknologi terseb...

kapitalisme, benih dekadensi moral

                                                  Apa yang terbesit di pikiran kamu ketika melihat komik di atas? Didasari dengan asumsi setiap manusia memiliki kebutuhan akan rasa nyaman, maka interpretasi saya, seorang kakek kapitalis panjang akal dan berorientasi pada uang, yang mengubah sesuatu yang seharusnya bisa didapatkan lelaki itu secara gratis. Walhasil, lelaki itu dengan terpaksa harus membayar apa yang sudah si kakek buat agar dia tetap bisa mendapatkan kenyamanan. Gambar di atas memberi kita gambaran sederhana mengenai kapitalisasi yang sedang terjadi. Tanpa kamu sadari,  fasilitas-fasilitas hiburan  dalam dan luar ruangan pelepas penat (bisa kau tebak sendiri, ratusan ragam fasilitas hiburan) atau juga  pusat-pusat perbelanjaan disediakan  oleh kakek-kakek  kapitalis  ...