Langsung ke konten utama

Seni, peristiwa, dan seloroh orang “gila”



Pada mulanya secangkir kopi, lalu hal-hal perkara seni, dan setelahnya dimulailah perbincangan ngalor-ngidul yang entah dimana muaranya. Dari obrolan itulah tercipta dialektika tanpa sintesa—selalu saja ada anti-thesa yang terus bertempuk junjung. Juga beberapa kesimpulan tak selesai ihwal gerakan mahasiswa hingga problem-problem kehidupan yang selamanya menyisakan tanda tanya, entah itu cinta, sampai kemiskinan dan realitas ekonomi politik yang kian bobrok perihal etika.
Dan tiga orang “gila” yang seringkali disemati aktivis itu masih saja galau dan gelisah dengan hiruk-pikuk realitas sosial yang kian mengalami krisis multidimensi. Ketiganya: Filsuf galau, calon pengusaha, dan sang pemimpin besar empunya UIN Jogja. Timbul dari ketiganya semacam skema dalam enigma. Skema karena ia coba merengkuh perencanaan strategis perubahan dengan sistematika ‘konspirasi’, enigma karena ada problem besar yang bergelanyut: Krisis yang memang tak mudah diretas, dianalisa dengan teori-teori kontemporer yang paling mutakhir sekalipun.
Tanpa terasa waktu pun sudah meresap ketaksadaran, senja menerakan warna tejanya disertai rintik gerimis yang menambah suasana makin terasa sayu. Maka segeralah ketiga pemuda itu beranjak dari kedai kopi yang kian riuh oleh pecandu nikotin dan cafein.
Setir pun segera diputar menyesuaikan rona jalan kota Jogja yang kuyup oleh gerimis. Sebagai mahasiswa yang biasa-biasa saja, tentu membawa mesin roda empat sudah lumayan dinilai agak elitis, apalagi identitas yang tersemat sebagai para aktivis. Mesin roda empat yang alakadarnya, tapi tak terlalu butut-butut amat, berjalan melepas penat pikir dengan kebanyolan dan umpatan.
Berhentilah kami disebuah restoran yang lumayan elit tapi soal harga standar mahasiswa. Entah apa yang pikirkan, rasa malu pada pengunjung yang rata-rata berpenampilan modis pun tak terhiraukan. “untuk apa malu, toh mereka sebenarnya hanya kelihatan luarnya saja…” untuk itu, “kita harus melawan para pemuja citra itu dengan tampilan ‘urakan’, apa adanya, tapi dalam pada tataran pola pikirnya…”
“dalam? Koplak lah iya,”
“wong masuk ke restoran kok nyeker...”
Ya begitulah orang-orang mbambung yang terbiasa hidup dengan cara merakyat, atau sok-sokan merakyat?hehe... Dan selepas itu ada sedikit pertempuran yang biasa terjadi diantara ”orang yang kecilnya pernah stress alias tak waras” dan ”orang yang punya masalah dengan jamur di kulit”, kini temanya ”setir yang memberat...”, disepanjang perjalanan pun setiap perbincangan yang coba menghindar dari tema besar itu justru jadi bumerang, sampai emosi pun hanya tertahan di pucuk urat.   
***
Senja pun mulai menggelincirkan cahaya matahari ke dalam gelap. Malam hadir dengan percik lirih air hujan yang menyeka tiap dataran.  Acara beralih ke tempat seorang seniman yang sedang mencari jati diri dan eksistensinya dalam berekperimen dengan warna dan goresan kuas.
Dalam perjalanan ke galeri sang seniman, sempat ada seloroh yang kacau dan racau. Terkadang perbincangan serius, romantisme, dan rencana-rencana yang seringkali melangit. Ada masa lalu yang dijadikan pijakan: memori. Juga berkait harapan dan hasrat menuju ke sebuah bayang-bayang masa depan waktu. Terkadang tersimpul sebuah utopia, tapi buan berarti omong-kosong tanpa titik pijak dalam dunia nyata. Justru itulah yang utopia hendak diwujudkan dalam ruang dan waktunya. Atau dalam bahasa Slavoj Zizek: Subyek haruslah mengintervensi ketakmungkinan!
Di sebuah jalan menuju kota bantul itu ada yang hendak tak bisa dilupakan. Ada keheningan yang pernah berkait dalam ingatan. Apalagi mendekati ruas pertigaan sebelum kota, rasa sayu itu tiba, ditambah dengan suasana malam yang gerimis dan embun yang mulai menebal pada kaca-kaca. ”Diro” hanya itu yang terbaca dalam kesadaran. Tapi malam adalah jejak keterasingan, dan wacana akan tetap terbantun seiring peliknya persoalan sosial yang kian tak mudah di baca duduk soalnya.
***
Terkadang memang mencari tempat yang sedikit asing tak selalu mudah. Apalagi yang datang adalah orang asing seperti kami—orang rantau yang mencari suaka. Kecurigaan pun selalu menghimpit dari pihak-pihak yang merasa sebagai orang dalam, apalagi orang-orang yang berwenang. Tapi selamanya yang dituju adalah hal yang baik, atau tak melanggar hukum, rasa gentar tak akan pernah tersambut. Karena tujuan kami Cuma satu: menjemput lukisan sang pelukis pemula yang sedianya akan dipamerkan.
Sesampainya disana, takjub dengan hasil kerja dan kreativitas yang mengambil narasi besar: daur ulang sampah. ”ya beginilah kerjaku, seni eksperimental” pekiknya lirih, ”tapi mungin lebih dekat dengan surrealis ya?” kata seorang dari ketiga pemuda yang datang dari Jogja itu.
Seni memang bukan hal yang dapat dengan mudah diobyektivikasi dalam terang kalkulasi matematis. Karena seni itu datang dari kreativitas, dari chaos, dari ketakterhinggan, dari kejamakan, yang kemudian tersublimasi pada tataran yang berhingga. Tapi bisa juga sebaliknya: dari yang imanen menuju yang transenden. Ada resiprositas disana, karena yang absolut selamanya tak pernah bisa tergapai—selalu luput terdekap ”kekosongan”.
Agaknya seni memang bukan hanya visualisasi imanen yang tertampil langsung tanpa mediasi, tapi juga berada pada palung kedalaman. Seni bukan sekedar benda-benda, atau artefak yang sama sekali lain dari kelainannya, tapi apa yang seolah mati itu sejatinya men-jadi. Ia bergerak. Ia dirasakan. Ia berjiwa. Ia tak berjarak. Dan itulah seni sebagai ”peristiwa” (event) dimana ada yang hadir dalam ketakhadirannya, ada yang sublim dari sebuah Chaos menuju konsep-konsep yang tertata dalam kanvas (lukis), bunyi (musik), gerak (tari), dsb... Seperti dikatakan James Joyce—novelis dan penyair ’modern’ Irlandia—”seni adalah suatu chaos yang berkomposisi, sebuah chaosmos, bukan yang terramalkan dan terkonsepsi sebelumnya.” Pendeknya, seni mentransformasi variabilitas chaotis (keberubahan-keberubahan yang chaos), menjadi varietas yang bernuansa chaos, ragam-ragam bentuk yang terkena chaos, seperti dalam lautan api yang hitam dan hijau abu El Greco ataupun lautan api emas Turner atau lautan api merah de Stael atau mungkin yang lebih realis semacam karya Djoko Pekik.
Barangkali pelukis yang sedang mencari jatidiri semacam sahabat kami itu juga tahu, bahwa seni juga semacam proses menjadi, sebagai cermin diri. Seperti sebongkah aforisma Nietszche:”kita tak kenal, kita (yang katanya berpengetahuan) tak kenal diri kita sendiri... niscaya kita tetapasing bagi diri kita sendiri, kita tak paham diri kita sendiri...” dan disanalah sang diri bergulat dalam ”sejarah” sebagai ada yang selalu menjadi, bergerak dan berubah, kebebasan dan pembebasan. Maka, perubahan pun datang sebagai ganjaran dari padanya yang terus menggapai jejak-jejak yang selalu tertunda.***
  

Komentar

Populer