Langsung ke konten utama

Postingan

Madame Bovary

    “Manusia di kutuk menjadi bebas… tapi dengan kebebasannya ia bertanggung-jawab atas segala yang dilakukannya…” Sudah jamak kita dengar kutipan ini, tentu saja, bagi kita yang pernah membaca Sartre—seorang filsuf eksisensialisme yang menempatkan eksistensi manusia sebagai   pokok terdasar kehidupan, istilah kerennya sih ontology. Nah loh, apa hubungannya dengan Madame Bovary? Novel maha karya Gustave Flaubert yang kini telah menjadi karya klasik ini?   Ada sedikit hubungan, saya kira, selepas membaca novel Flaubert ini. Namun, saya tak akan membahas keterkaitan eksisensialisme sartrean dengan novel Flaubert secara ketat di sini. Ya, sekedar melihat secara harfiah apa saja yang baru tertangkap selepas merampungkan novel ini. Madame Bovary becerita tentang keluarga Bovary dan segenap lika-liku kehidupan yang menyertainya. Kisah ini bermula dari Monsieur Bovary tua yang menikah dengan perempuan desa yang cukup kaya. Dalam perkawinan ini, monsieur bovar...

Sedikit Catatan Setelah Membaca Dunia Kafka

Membaca Haruki Murakami serasa jiwa terbawa masuk dalam lanskap teks yang begitu kaya. Kita seolah diajak berkeliling ke dunia antah-berantah, dunia imaji, dunia yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya. Bahasanya sederhana namun sarat dengan letupan makna yang dalam. Setidaknya impresi seperti ini saya rasakan selepas membaca novelnya: Dunia Kafka ( Kafka on the Shore ) yang di terbitkan Pustaka Alvabet (2011). Dunia Kafka sarat dengan absurditas, surealisme, metafora, imajinasi yang kadang liar, ya bisa dikatakan kita sedang berlayar dalam ruang yang mustahil di jamah akal manusia. Berbeda dengan Dengarlah Nyanyian Angin yang cenderung realis, Dunia Kafka dipenuhi dengan aura magis yang bertaburan di dalam cerita—setidaknya dua novel murakami itulah yang sudah saya baca, dan tentu ketagihan pengen baca novelnya yang lain, terutama Norwegian Wood , sayang udah hilang dipasaran. L Lanjutkan...

Paradoks... Lagi... Paradoks!!!

Barangkali kita sedang merayakan paradoksikalitas. Seperti menderu dan mencekam dalam keterasingan akan kesadaran yang terombang-ambing dalam realitas. Seolah waktu mengalir menelusupkan angka-angkanya dalam tiap jengkal tubuh kita. Hingga kita merasa tubuh kita semakin termakan oleh zaman. Yah! Di sebuah zaman yang barangkali nyaris tanpa ironi. Atau barangkali saking banyaknya ironi yang bertebaran di segala sudut ruang dunia maya yang makin menggerus dunia hidup kita hari ini??? Dunia semakin menjadi palsu. Kita semakin dikangkangi oleh rezim layar gadget. Mencengangkan sekaligus memilukan. Begitulah, ketika semua hal yang tampak serta merta kita ukur dari gambar, sebuah representasi yang penuh tipuan, bahkan mengandung parody dalam dirinya sendiri. Yang nyata adalah yang tak nyata. Yang imajiner telah melebur menjadi realitas. Apakah kita sedang bergerak menuju kemajuan peradaban? Atau sebaliknya, kita sedang dikangkangi oleh hasil rekaan manusia sendiri? Sebuah ekses yang tak ...

Paradoxa Jawa

Saya, mungkin tak hanya saya, adalah anak yang tersesat, ling-lung, di atas tanah wiladahnya sendiri. Tuhan, dengan segala kuasa rahman dan rahim-Nya, menempatkan jasad dan jiwaku di tanah Jawa yang begitu agung tapi penuh absurditas ini. Tubuhku Jawa tulen. Dengan kulit sawo matang, hidung yang tak mancung pula tak pesek, rambut hitam yang agak bergelombang, bola mata coklat, dan paras yang tak terlalu tampan—biasa-biasa saja. Di tanah Jawa ini aku lahir dari golongan kelas menengah yang menggapai-gapai disposisi sosial seraya ingini melampauinya. Dari bumi nusantara yang subur ini aku meneguk nafas. Berkelindan dalam kehidupan rakyat yang sederhana. Mungkin dari latar belakang kelas menengah muslim setengah ‘abangan’ juga setengah ‘santri’ itu, aku dididik. Aku dibesarkan dengan kebudayaan Jawa yang tak seluruhnya bisa kuserap. Bahkan, seringkali aku tak mengacuhkannya. Entahlah, mungkin itulah yang aku rasa sekarang, terasing dari budayaku sendiri. Sebagai orang Jawa, tent...

Beauty is only a skin deep

“Ketika gaya menjadi segalanya dan segalanya menjadi gaya, maka perburuan penampilan dan citra akan menjebak dalam permainan konsumerisme…” Kecantikan adalah semacam cermin. Sebagaimana cermin, ia memantulkan suatu rona yang menampakkan diri yang juga bukan diri. Didalamnya, kita mengidentifikasi klausul setiap lekuk wajah dan tubuh kita dalam imaji-imaji, yang mana imaji itu kita dapatkan dari luar diri kita sebagai ‘manusia’ atau lebih tepatnya ‘wanita’. Setiap wanita diseluruh penjuru dunia, pastilah mengidamkan penanda (signifier) berupa cantik untuk kemudian dilekatkan pada identitas diri alias dalam petanda (signified). Namun kemudian apakah konsep cantik itu sendiri bisa kita ukur dalam kualifikasi universal, dengan kata lain dapat diterima setiap orang? Memang terlalu naïf kiranya jika kita memaksakan diri untuk membakukan konsep kecantikan itu dalam dimensi universalitasnya. Bukankah konsep-konsep yang kita dapati itu juga hasil rekaan sejarah, kekuasaan, da...