Sudah beberapa hari ini kampus “oren” ini begitu lengang. Hanya terlihat sisa-sisa mahasiswa yang bergelut melawan waktu, tuk raih toga di bulan Maret nanti. Dan tentu saja ada bagian yang tak kunjung penuh di sana, ada ingatan yang selamanya tenggelam. Aku hanya merasa sedikit asing, entah beberapa kawan seperjuanganku, mungkin mereka juga setidaknya merasakan hal yang sama, meski yang sama tak selalu ada. Begitulah wajah gagau dan risau seorang calon sarjana, ada yang berkecamuk di sana. Bagaimana tidak? Realitas menuntut untuk menjadi pekerja, atau paling tidak menghasilkan uang sendiri. Dan itu yang aku tangkap, yang aku terka dari derap-derap kata yang terbantun di udara : “lulus, kerja, lalu nikah…” seperti itulah siklus hidup yang mengalir biasa, menerima realitas apa adanya. Dan mungkin setelah itu, punya momongan, tua, dan meninggalkan jasad dari dunia. Tapi itulah hidup, semua itu hanya bagian yang akan dan harus kita lewati sebagai siklus yang tak berganti, seba...