Langsung ke konten utama

Postingan

Apologia

Sudah beberapa hari ini kampus “oren” ini begitu lengang. Hanya terlihat sisa-sisa mahasiswa yang bergelut melawan waktu, tuk raih toga di bulan Maret nanti. Dan tentu saja ada bagian yang tak kunjung penuh di sana, ada ingatan yang selamanya tenggelam. Aku hanya merasa sedikit asing, entah beberapa kawan seperjuanganku, mungkin mereka juga setidaknya merasakan hal yang sama, meski yang sama tak selalu ada. Begitulah wajah gagau dan risau seorang calon sarjana, ada yang berkecamuk di sana. Bagaimana tidak? Realitas menuntut untuk menjadi pekerja, atau paling tidak menghasilkan uang sendiri. Dan itu yang aku tangkap, yang aku terka dari derap-derap kata yang terbantun di udara : “lulus, kerja, lalu nikah…” seperti itulah siklus hidup yang mengalir biasa, menerima realitas apa adanya. Dan mungkin setelah itu, punya momongan, tua, dan meninggalkan jasad dari dunia. Tapi itulah hidup, semua itu hanya bagian yang akan dan harus kita lewati sebagai siklus yang tak berganti, seba...

Berdamai dengan rasa takut

Tahun kian berlalu, tanpa terasa sudah menunjuk angka 2013 dan wanita itu mulai samar di pusat ingatan. “cinta adalah cinta, terkadang kau tak harus mengertinya, menyimpan benih-benihnya dalam puing rasa, karena itu lebih elok, dari pada cinta itu kau paksa-paksakan untuk dipersatukan, karena cinta bukan pengorbanan. Perasaan adalah untuk di tolak atau di bunuh, tidak untuk di lekaskan, apalagi dibiarkan untuk mengalir, ujung-ujung terbaca : penampikan…" Tapi semua itu sudah terjadi. Semacam “kecelakaan sejarah” yang berjuntai dalam titik kisar waktu yang kembali bisu. Sungguh tak enak, wajahnya kadang datang di malam yang hening, sekelebat di tengah mimpi yang tak tercatat. Tapi darinya ada sebuah jejak yang tak terperikan, sebuah tanda mula, dimana hidup tak hanya sekedar hitam-putih semata. Sebab kini lelaki sunyi itu punya cinta yang lain: Puisi dan filsafat. Tapi dunia yang dicintainya tak selamanya taman bunga dengan kembang-kembang yang tenang. Lelaki sunyi itu mul...

"satu"

Malam kian larut seraya gelap. Seperti juga hidup, terkadang tenggelam dalam riuh rendah, terkadang pada puncak yang tak tepermanai. Hidup ini absurd, begitu kata para eksistensialis, tapi seabsurd apapun itu bukan berarti kita harus pasrah dan menyerah dalam bingkainya yang selalu dalam ketakpastian. Justru itulah kita harus melawannya, kita harus menggoreskan tinta-tinta makna, men-decode-nya menjadi lebih sublim. Begitu juga setiap manusia, manusia selalu hendak merengkuh kemerdekaan. Kemerdekaan atas segala determinasi eksternal yang terkadang amat memuakkan. Apakah kita jua pernah berfikir ? bahwa kemerdekaan diri hanya ilusi, karena dalam setiap diri selalu ada kontraksi dengan sesuatu yang bukan diri—sesuatu yang seringkali tak terdeskripsi, tak bisa terengkuh dengan pasti. Dalam aras yang berkecamuk dalam diri ini, kebebasan ! kemerdekaan ! tak akan pernah berarti tanpa adanya sebuah ikhtiar pembebasan. Satu hal yang tak mudah. Karena dalam setiap pembeba...

KOMUNIS

Tampaknya hari ini orang masih menyimpan trauma sejarah akan angka “1965”. 1965, jadi saksi dimana politik dan ideology adalah nyawa. Orang tak hendak lupa dengan peristiwa beradarah yang menyudutkan PKI sebagai biang keladi kekacauan. Tapi dari sana trajektori politik kita pun berubah. Adalah almarhum Soeharto yang menjadi aktor yang mencetus pembabatan habis komunis sampai ke akar-akarnya. Kita tahu, sejak itu “komunis” menjadi kata yang haram diucapkan apalagi diperbincangkan. Seolah komunisme bagi orang ramai komunisme adalah monster jahat anti-tuhan yang memusuhi agama dan kebajikan. Tapi begitulah politik, karena “kekuasaan” akan selalu bisa membungkus fakta dengan hegemoni. “Sejarah adalah langkah seorang raksasa yang tak punya hati”, kata-kata itu tercantum dalam novel Amba, dalam sepucuk surat yang selama bertahun-tahun disembunyikan di bawah sebatang pohon di Pulau Buru oleh penulisnya, seorang dokter, seorang tapol, yang kemudian terbunuh. “Sejarah menyingkirkan orang...

"AKU"

“Subyek sudah mati…” pekik para punggawa post-modernis dengan nada minor nan gagau. Dengan ini segala klaim absolut dan total atas segala macam narasi-besar sudah habis. Filsafat, yang sebagaimana dikatakan Deleuze adalah ikhtiar penciptaan konsep-konsep, kini kian berada pada titik kulminasinya. Segala upaya pencarian akan kepastian yang merupakan produk modernisme dianggap hanya membawa mala. Benarkah demikian??? Tentu saja tidak demikian! Memang benar, filsafat sedang sakit, bahkan sekarat, kata Badiou. Tapi bukan berarti filsafat sudah habis! justru disitulah saatnya filsafat akan menapak horozon baru: ”bangkit dan berjalanlah!” lanjut badiou yang geram dengan para pemikir posmo yang cenderung besembunyi dibalik ”metafisika makna”—sebuah pengingkaran akan sebuah keniscayaan, atau katakanlah sejenis ”aporia-aporia” yang malu-malu untuk mengatakan ”ya” pada ”kebenaran”, ”logos”, ”subyek”, etc... Salah satu pemikir yang gencar melawan konsepsi filsafat posmo adalah Slavoj...
Kepemimpinan Intelektual Profetik Dalam Konteks Demokrasi dan Kebangsaan ~Hendra Setiawan * ”Sejarah menunjukkan bahwa politik yang hanya mencari pemimpin, mengandalkan ’subyek’ yang seakan-akan utuh, akan berakhir dengan harapan yang guncang...” –Goenawan Mohammad Sebongkah epigram dari Goenawan Mohammad diatas paling tidak mengingatkan kita akan sebuah keterbatasan, bahkan ketakmungkinan. Agaknya ini menjadi sebuah ironi, ketika banyak kalangan merindukan sosok pemimpin yang kuat, karismatik, dan merakyat. Sesuatu yang seringkali dinanti-nanti sebagai ”ratu adil”—sebuah subyek yang utuh—yang mendatangkan kesejahteraan dan keadilan. Memang kecenderungan ini sah-sah saja, mengingat kondisi realitas ekonomi-politik kita yang nyaris sekarat. Sistem demokrasi Pancasila yang diterapkan dinegeri ini tak lebih hanya jadi utopia normatif yang sama sekali tak terejawantah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Demokrasi yang sejatinya memberikan kedaulatan bagi rakyat, kini justr...

terlambat...

Di tepi bengawan yang membelah kota kali code, kau menyebutnya Yang barangkali sekarang aku lihat kembali dengan masygul juga di sebuah jalan Pramuka aku menapak akhir gejala pada rentetan kata tetinggal diantara relung sukma aku hendak menghela sebuah kekuatan tunggal, telah mengatur semuanya sehingga remuk redam cenderung merasa tak patut, untuk menganalisa kekurangan di tubuh sendiri, di masa lampau dengan ngeri atau takjub: juga sebuah mitos tentang yang pernah ada yang pernah terasa tak tersambut, lepas dalam ungu kabut tapi, kau tahu, tak pernah berubah, sama sekali! Atau sedikitnya suara gagau lambat laun begitu rutin, tak masuk akal pula, terutama bagi mereka akan bisa kembali untuk memikat menjanjikan suatu masa depan yang lebih baik. selama ini hanya nampak sebagai “Peristiwa” —sesuatu yang dahsyat, krusial, apokaliptik, sekaligus misterius. 'Mitos' memang mudah menjawab pelbagai pertanyaan dengan satu patah kata, dan sekaligus melupaka...